Murid yang Dikasihi YESUS

Murid yang Dikasihi YESUS
Oleh: Pdt. Agung Takariana

Kita telah belajar tentang bergaul dengan Allah versi Henokh, kini kita akan belajar versi Yohanes (murid Yesus). Mengapa Tuhan begitu mengasihi Yohanes? Kepada Yohanes yang suka bergaul dengan Yesus, Tuhan tidak bisa menyembunyikan rencana-Nya, sehingga di masa tua Yohanes, Tuhan memberi penglihatan tentang akhir zaman (yang dituliskan dalam kitab Wahyu). Berarti kepada sahabat Allah, Ia tidak mau menyembunyikan rahasia-Nya.
“Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?”(Yoh.1:35-38). Tuhan Yesus bertanya pada Andreas dan Yohanes (murid-nya): Apakah yang kamu cari? Apakah yang kamu inginkan? (What do you want?) Mereka menjawab: Guru, dimanakah Engkau tinggal? Lihat, Yohanes tidak meminta kekayaan, kemahsyuran, dsb, tetapi ingin tahu di mana Yesus tinggal. Kerinduan Yohanes adalah bergaul (bershabat)dengan Yesus. Ia bukan pribadi yang suka meminta-minta (Yoh.16:24). Karakter Yohanes tidak suka menonjolkan diri. Dalam Injil Yohanes yang ditulisnya, ia tidak pernah menyebut namanya. Ia hanya menggunakan nama “murid yang dikasihi-Nya” atau “murid yang lain”.
Yohanes jarang meminta kepada Yesus. Hanya tercatat sekali di Alkitab, Yohanes mengajukan permintaan. “Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!” Jawab-Nya kepada mereka: “Apakah yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?” Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” (Mrk.10:35-37). Permintaan Yohanes bukan kekayaan, nama besar, atau sesuatu yang duniawi, tapi persis ketika perjumpaan pertama dengan Yesus, yaitu “di mana Engkau tinggal?” (Ia ingin duduk dan bergaul dekat Yesus).
“Simon Petrus dan seorang murid lain mengikuti Yesus. Murid itu mengenal Imam Besar dan ia masuk bersama-sama dengan Yesus ke halaman istana Imam Besar, tetapi Petrus tinggal di luar dekat pintu. Maka murid lain tadi, yang mengenal Imam Besar, kembali ke luar, bercakap-cakap dengan perempuan penjaga pintu lalu membawa Petrus masuk.” (Yoh.18:15-16). Perhatikan, ketika Yesus ditangkap, “seorang murid yang lain” (Yohanes) ikut masuk bersama Yesus ke tempat Imam Besar, namun Petrus hanya berdiri di dekat pintu (di luar). Yohanes ikut menyaksikan ketika Yesus difitnah dan dihina. Yohanes ada di dalam, Petrus ada di luar. Bukti bahwa Yohanes benar-benar mengasihi Yesus. Banyak orang yang ingin bersama Yesus ketika Ia dimuliakan, tapi mereka meninggalkan Yesus ketika Ia direndahkan.
“Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” (Yoh.19:25-27). Dari dua belas murid utama Yesus: satu orang sudah berkhianat (Yudas Iskariot); satu orang sudah menyangkal-Nya (Petrus); sembilan orang pergi entah di mana; jadi hanya Yohanes yang setia di bawah kaki Yesus sampai Ia disalibkan. Karena itu, Yesus menitipkan Maria (ibu-Nya) kepada Yohanes. Yohanes menjadi saksi dari awal pelayanan Yesus (sejak bertanya: Di manakah Engkau tinggal?) hingga akhir hidup-Nya (di kayu salib).
Bahkan Yohanes menyaksikan ketika Yesus bangkit. “Ia (Maria Magdalena) berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur.” (Yoh.20:2-4). Yohanes berlari lebih cepat daripada Petrus menuju ke kubur, karena Yohanes lebih mengasihi Yesus.
“Maka kata Yesus kepada mereka: “Tebarkanlah jalamu di sebalah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau.” (Yoh.21:6-7). Dalam perjumpaan terakhir Yesus (dalam tubuh kebangkitan-Nya) dengan murid-muridNya, mereka tidak bisa mengenali-Nya. Maka Yesus ingin mengingatkan mereka (terutama Petrus) dengan perjumpaan awal mereka dengan-Nya. Namun, hanya Yohanes yang bisa mengenali-Nya dan berkata “Itu Tuhan”, sebab ia bergaul dengan Yesus. Di saat seseorang mulai meninggalkan Tuhan, ada waktunya ketika Tuhan ingin ingatkan kita dengan perjumpaan awal kita dengan-Nya (kembali ke titik awal), supaya Anda tetap mengasihi Tuhan. Teladanilah kehidupan Yohanes yang suka bergaul, bersahabat, dan mengasihi Tuhan sampai akhir hidupnya.

Burung yang Rajin Bekerja

Burung yang Rajin Bekerja

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Mat.6: 25-26).
Ayat ini sering disalahgunakan oleh orang-orang yang malas. Mereka berkata, burung di udara saja dipelihara oleh Tuhan, sedangkan kita lebih daripada burung, jadi biarpun kita berpangku tangan, Tuhan tetap memelihara kita. Mereka tidak memahami bahwa yang dimaksudkan dalam ayat itu bukan burung yang ada di dalam sarang, melainkan burung yang ada di langit. Burung yang pergi dari sarang kenyamanannya untuk bekerja.
Tuhan menjanjikan kepada kita semua pemeliharaannya. Burung-burung saja dipelihara, terlebih lagi kita (manusia) ciptaan-Nya. Tetapi bukan berarti kita tidak perlu bekerja keras dalam hidup dan mengandalkan berkat Tuhan secara ajaib saja. Sepanjang hidup pelayanan saya, saya tidak pernah melihat berkat tiba-tiba turun dari langit, tetapi kita mesti bekerja. Mari belajar dari kehidupan burung. Burung-burung memang tidak menabur atau menuai, namun meraka bekerja keras sepanjang hari.
Ada sebuah penelitian yang membuktikan bagaimana burung itu bekerja keras:
Burung murai. Dia bangun pukul 2.30 pagi kemudian mencari makanan hingga pukul 21.30 malam. Bolak-balik ke sarang sekitar 200 kali dalam sehari. Memberi makan kepada anak-anaknya.
Burung tikus. Bangun pukul 3.00 pagi dan bekerja sampai pukul 9.00 malam. Mereka bisa mengumpulkan 400 ekor ulat sehari.
Burung hitam. Bangun pukul 4.00 pagi dan bekerja hingga pukul 9.00 malam. Artinya 17 jam ia bekerja, bolak-balik ke sarang 100 kali dalam sehari untuk memberi makan anak-anaknya.
Coba bayangkan, bagaimana Tuhan tidak memelihara burung-burung tersebut. Mereka bekerja keras dan giat. Rata-rata mereka bekerja 18 jam sehari. Burung-burung itu bekerja bolak-balik dari sarang ke tempat ia mencari makan.
Pertanyaannya, berapa lama Anda bekerja dalam sehari? Jangan berpangku tangan. Jangan berkata bahwa yang kau punyai adalah pekerjaan kecil. Dengar, segala yang besar dimulai dari yang kecil. Tidak ada perkara-perkara dahsyat tanpa diawali dengan perkara sederhana. Daud melakukan pekerjaan yang besar dan dahsyat, tetapi itu dimulai dari perkara-perkara yang kecil. Hari ini, sebelum melakukan aktivitas kita, mari renungkan: jangan malas, jangan berpangku tangan, teruslah berkerja, maka Allah akan memelihara kehidupan kita. Ingat, bukan burung yang di sarang yang dipelihara Tuhan, tetapi burung di udara yang terus bekerja. Hari ini teruslah bekerja maka Tuhan akan memelihara Anda.

Perjanjian Berkat Tuhan

Perjanjian Berkat Tuhan

Destiny Tuhan bagi kita adalah:
Hidup di dalam segala kelimpahan (Yoh.10:10b)
Berkuasa dan bertambah banyak (Kej.1:28)
Masa depan penuh harapan (Yer.29:11)

Pengertian “berkat Tuhan” itu cakupannya luas sekali, lebih dari sekedar uang. Berkat Tuhan juga bisa meliputi: kesehatan, sukacita, damai sejahtera, bermultiplikasi, kemenangan, nama mahsyur, dsb. Jadi bila keadaan hidup Anda tidak sesuai dengan janji firman Tuhan, maka ada beberapa hal yang harus diperiksa:
Ada dosa/tidak (taat Firman/tidak)
Persepuluhan
Menabur
Mengelola uang dengan benar
Melakukan dalam ketekunan (Ibr.10:36)
Sudahkah kita melakukan kelima hal tersebut? Sesudah itu, barulah kita bisa tahu: apakah keadaan yang sedang kita alami terjadi karena ujian atau dosa?
Sumber kekayaan kita adalah berkat Tuhan. “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” (Ams.10:22). Berkat Tuhan adalah sumber kekayaan sejati. Berkat Tuhan merupakan ganjaran/upah balasan dari kerendahan hati dan sikap takut akan Tuhan (Ams.22:4). Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, sebab bagi orang yang tidak diberkati Tuhan maka apapun yang dikerjakannya tidak akan berhasil (Ams.23:4).
Hidup orang percaya tidak terikat dengan hukum alamiah, tetapi berdasarkan ikat janji (covenant) dengan Allah. Ikat janji ini tidak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang ada, tidak bisa dibatalkan oleh apapun juga. Sekalipun kondisi di sekelilingmu sedang resesi, tapi jika destiny-mu diberkati, maka engkau akan tetap menerima berkat Tuhan.
Perjanjian Allah dengan manusia:
Perjanjian Taman Eden
Perjanjian Nuh
Perjanjian Abraham (Kej.12:1-3, 15:18, 22:15-18) adalah perjanjian yang dibuat Allah kepada Abraham bahwa melalui “keturunan Abraham” (Kristus), berkat keselamatan yang utuh (termasuk berkat jasmani) akan sampai kepada bangsa-bangsa (Gal.3:14).

Allah telah membuat ikat janji dengan Abraham dan keturunannya. Pihak Allah pasti selalu menepati janji-Nya, tetapi pihak Manusia seringkali gagal menepati janjinya. Kegagalan manusia untuk melakukan firman Allah telah mendatangkan kutuk, itulah yang disebut dengan Kutuk Hukum Taurat yaitu:
Kutuk Kebinasaan (upah dosa adalah maut, Rm.6:23)
Kutuk Kehidupan (kegagalan, kemiskinan, kematian, sakit penyakit, Ul.27-28)
Lewat kematian Yesus Kristus di kayu salib, semua kutuk tersebut sudah diselesaikan, sehingga semua berkat Tuhan bisa kita terima lewat satu jalan, yaitu Yesus Kristus. Kutuk kebinasaan sudah dilepaskan dari kehidupan semua orang yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Namun kutuk kehidupan akan dilepaskan dari kehidupan kita tergantung dari ketaatan kita pada firman Tuhan.
Siapakah yang disebut “keturunan Abraham”? Dalam Galatia 3:29 dikatakan, “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” Jadi keturunan Abraham adalah semua orang yang percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Janji itu diteguhkan Allah dengan memberikan kekuatan untuk memperoleh kekayaan pada manusia (Ul.8:18). Dari pihak Allah berjanji dengan sumpah dan meneguhkan dengan kekuatan untuk memperoleh kekayaan, sedangkan pihak Manusia berpegang janji (percaya) dan taat pada Firman Tuhan.
Syarat menerima berkat Tuhan: “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara Tuhan, Allahmu.” (Ul.28:1-2). Hidup berkelimpahan bukanlah tujuan melainkan peneguhan yang Allah nyatakan karena orang percaya taat berjalan di dalam perjanjian-Nya.

Hidup Dalam Kasih Karunia

Hidup Dalam Kasih Karunia

“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” (Ef.3:18-19). Paulus berdoa untuk jemaat di Efesus agar mereka dapat memahami (lebarnya, panjangnya, tingginya, dalamnya) kasih Kristus. Banyak orang Kristen yang masih hidup di bawah hukum Taurat karena tidak memahami kasih Kristus. Ketika menyadari tentang kasih Kristus ini, kita tidak hidup di jaman Taurat lagi, kita hidup di jaman Anugerah. Ketika Anda terhilang, Bapa di Sorga tetap menantikanmu. Seberapapun besarnya dosamu, kasih Kristus sanggup menjangkaumu. Kasih itu tidak akan beranjak darimu!
Pertanyaan yang perlu Anda renungkan: Anda adalah “mempelai” siapa? Seharusnya kita adalah Mempelai Kristus, tapi dalam kenyataannya kita seringkali kurang menyadari kasih Kristus. Ingat bahwa Tuhan ingin mengampunimu dan memberi anugerah padamu. “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib! Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” (Gal.3:13-14). Anda telah ditebus dari kutuk hukum Taurat, yaitu kutuk kebinasaan dan kutuk kehidupan. Anda tidak berjalan dalam perjanjian anugerah (covenant of grace) pada saat Anda terima keselamatan saja. Namun, Anda seharusnya terus berjalan dalam anugerah ketika melakukan apapun juga setiap hari.
Sebagai ilustrasi: Dahulu, sebelum lahir baru, kita semua adalah isteri (mempelai) dari pria tampan bernama Tuan Taurat (Serba Sempurna). Sebagai isterinya, kita dituntut untuk selalu sempurna (perfect). Kita tidak boleh melakukan kesalahan. Kita dituntut untuk mencapai standar moral yang sempurna. Setiap kali isterinya gagal memenuhi standar moral itu, ia akan menerima penghukuman dan penghakiman yang setimpal. Sebagai manusia berdosa, kita selalu gagal memenuhi standar yang diinginkan Tuan Taurat. Karena itu, tak henti-hentinya kita mengalami penghukuman dan penghakiman yang bertubi-tubi. Alangkah menyedihkan hidup bersama suami yang demikian.
Kemudian, muncullah pria yang sempurna yaitu Tuan Yesus (Kasih Karunia). Ia mendekati kita dan mulai menanyakan masalah yang kita hadapi dengan Tuan Taurat. Ia menawarkan solusi untuk bebas dari dosa, penghukuman, dan penghakiman. Jika kita menjadi mempelai-Nya, maka kondisi kita akan berbeda. Bila Yesus menjadi suami kita, maka kita tidak perlu bersusah payah mencapai standar moral seperti yang ditetapkan Tuan Taurat. Sebab Ia tahu bahwa kita tidak akan pernah bisa mencapainya. Tetapi jika kita menjadi mempelai Yesus, kita akan bersatu dengan-Nya: kita di dalam Yesus dan Yesus di dalam kita. Jika Yesus di dalam kita, maka Dialah yang akan menggantikan kita untuk mencapai tuntutan Taurat. Bersediakah Anda menikah dengan pria yang bernama Yesus? Namun kita tidak pernah bisa menjadi mempelai-Nya selama kita masih menjadi mempelai dari Tuan Taurat. Padahal Tuan Taurat tidak bisa mati. Karena itu, kita yang harus mati bersama Kristus supaya bisa bersatu dan menjadi mempelai-Nya. Kita mati bersama Yesus di kayu salib, namun pada hari ke-tiga, Yesus membangkitkan kita dari kubur. Jadi sekarang, kita adalah ciptaan baru, yang lama telah berlalu. Tapi kadangkala Tuan Taurat masih suka mengunjungi dan membujuk kita untuk kembali padanya.
Melalui ilustrasi ini, kita tahu bahwa kita telah mati terhadap hukum Taurat. Kita tidak boleh mengandalkan perjanjian lama, yaitu perjanjian perbuatan. Jika kita masih hidup menurut hukum Taurat, berarti kita tidak mengandalkan kasih karunia. Jangan pernah kembali pada cara hidup yang lama, yaitu cara hidup yang sia-sia. Pahamilah betapa lebarnya, panjangnya, tingginya, dan dalamnya Kasih Kristus atas hidupmu. Kasih Kristus bersedia mati untuk menebusmu dari kutuk hukum Taurat. Tuhan kita adalah Bapa yang penuh kasih. Sebesar apapun dosamu, ia mau mengampuni dan mengasihimu. Hari ini, mulailah berjalan di dalam Perjanjian Anugerah-Nya!

Kuasa Salib Kristus

Kuasa Salib Kristus

“Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.” Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.” (Bil. 21:8-9). Bangsa Israel banyak yang mati karena terpagut ular karena berdosa. Mereka melawan Allah dan melawan pemimpin yang Tuhan tetapkan bagi mereka. Karena berdosa, Tuhan menghukum dan menghajar mereka dengan sakit penyakit dan kematian. Ingat bahwa upah dosa adalah maut. Banyak orang, karena berdosa, maka bisnisnya hancur, terkena sakit penyakit, rumah tangganya tenggelam, masa depannya suram. Dunia tidak bisa memberikan jawaban pada mereka. Tetapi saat mereka kembali memandang kepada Salib Kristus, ada jalan keluar bagi persoalan mereka.
Tuhan menyuruh Musa membuat tiang dan ular tembaga, sebab itu adalah lambang kehidupan, kesembuhan, dan pengampunan. Tiang dan ular tembaga itu melambangkan Salib Kristus. Bagi Anda yang sedang putus pengharapan, pada saat Anda memandang salib Kristus, Anda akan tetap hidup. Tuhan tidak akan membiarkanmu tenggelam. Sekalipun engkau berbuat dosa sedemikian rupa, berbaliklah dan kembali kepada Tuhan. Ada dosa korporat yang membuat langit di atasmu menjadi tembaga dan tanah di bawahmu menjadi besi (Ul.28:23). Akibatnya, tidak ada hujan dan apapun yang ditanam tidak menghasilkan apa-apa. Tapi semuanya itu bisa dipulihkan kembali pada saat kita memandang kepada Salib Kristus.
“Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara. Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: “Apakah yang akan kami minum?” Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka.” (Kel.15:23-25). Setelah menempuh perjalanan yang panjang, bangsa Israel sampai di Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air di sana sebab pahit rasanya. “Mara” artinya pahit. Kehidupan yang pahit, rumah tangga yang pahit, bisnis yang pahit, dan segala hal yang pahit, hanya satu yang bisa mengubahnya menjadi manis yaitu Salib Kristus. Pada waktu bangsa Israel berteriak pahit, maka tidak ada yang bisa mereka minum karena kepahitan itu. Kemudian Tuhan menunjukkan kayu pada Musa, yaitu salib yang dilemparkan. Bila kehidupanmu sedang pahit, karena persoalan ataupun himpitan, hanya satu jawaban yang bisa membuat kehidupanmu menjadi manis dan bercahaya kembali yaitu salib Kristus.
Salib Kristus adalah password kita menuju semua kehidupan di dalam segala kemenangan. Tuhan menjadikan kita bukan sekedar pemenang, tapi lebih dari pemenang. Segala perkara dapat kita lakukan bersama Kristus. Bagi Anda yang belum menerima salib Kristus, marilah percaya dengan hati terbuka bahwa tidak ada Tuhan selain Yesus Kristus. Jangan sekedar menjadi Kristen keturunan, Anda harus mengalami kelahiran kembali (lahir baru), mengalami pertobatan, mengalami mujizat terbesar yaitu dengan hati percaya dan mulut mengaku bahwa tidak ada Tuhan selain Yesus Kristus. Tidak ada nama lain yang olehnya kita bisa diselamatkan, hanya oleh Yesus Kristus.
Kehidupan kekristenan adalah sebuah perjalanan (journey). Kerajaan Allah sering disebut juga dengan Jalan Tuhan. Dalam sebuah perjalanan, jika di tengah perjalanan itu mengalami hal-hal yang kurang baik, Anda jangan langsung berhenti, teruslah berjalan. Di salah satu terminal di Jepang ada tulisan bagus yang berbunyi: “Hanya bus yang boleh berhenti, manusia harus jalan terus!” Anda pun tidak boleh berhenti dalam perjalanan hidupmu. Anda hanya boleh berhenti saat Anda sudah pulang ke Rumah Bapa di sorga.
“Dan terjadilah, ketika seorang sedang menumbangkan sebatang pohon, jatuhlah mata kapaknya ke dalam air. Lalu berteriak-teriaklah ia: “Wahai tuanku! Itu barang pinjaman!” Tetapi berkatalah abdi Allah: “Ke mana jatuhnya?” Lalu orang itu menunjukkan tempat itu kepadanya. Kemudian Elisa memotong sepotong kayu, lalu dilemparkannya ke sana, maka timbullah mata kapak itu dibuatnya. Lalu katanya: “Ambillah.” Orang itu mengulurkan tangannya dan mengambilnya.” (2 Raja 6:5-7). “Mata kapak” berbicara tentang mata pencaharian, bisnis, masa depan kita. Jika hari ini mata kapak rumah tanggamu sedang menuju kehancuran, mata kapak bisnismu sedang menuju kebangkrutan, maka hanya satu yang bisa menolongmu yaitu: kembali pada Salib Kristus. Tidak ada cara lain. Siapapun yang dipagut ular karena dosanya, tetapi memandang kepada salib, dia akan tetap hidup. Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, supaya berkat Abraham sampai kepada kita (Gal.3:13-14).