Berkat di Tahun Yobel

Shalom, nama saya Mirna dan suami saya bernama Sawung. Kami dikaruniai dua anak, Aristo (12 tahun) dan Jonathan (9 tahun). Saat kami bergabung dengan BFA Palangkaraya beberapa tahun lalu, keadaan kami bisa dibilang miskin. Waktu itu, kami masih tinggal di barak, memakai motor butut dan baju seadanya.

Kami sempat merasa minder dengan keadaan kami, tetapi kami lawan dengan memperkatakan bahwa kami datang ke gereja karena mencari Tuhan, bukan karena manusia. Itulah yang senantiasa menguatkan kami, sehingga sampai sekarang kami tetap setia dengan gereja BFA. Begitu banyak proses iman yang harus kami lalui untuk tetap setia dan taat, ada ujian dari dalam gereja dan juga ujian dengan pasangan hidup. Begitu lama saya menyimpan kepahitan dengan suami saya karena sesuatu yang dituduhkan kepada saya. Sikap itu ternyata tidak benar. Pada saat kedua anak saya sakit, saat itulah saya melepaskan pengampunan kepada suami saya, karena pesan Pdm. Petrus Halomoan Purba saat mendoakan anak kami, “Carilah Tuhan maka kamu akan hidup.” Pada saat itu kami masih mencari pertolongan dari “allah” lain.

Ketika kami bertobat, Tuhan pulihkan kesehatan anak-anak saya dan berangsur-angsur suami saya dipulihkan (yang dulu pemarah, sekarang lebih baik). Kami menerima berkat rumah, suami saya diangkat menjadi PNS, dan berkat pemulihan roh yang membuat kami semakin taat dan setia digembalakan di gereja BFA.

Tahun Yobel ini, Tuhan telah menunjukkan kasih-Nya kepada kami. Pada saat Pdt.Agung Takariana menyampaikan Firman Tuhan pada 24 Januari 2016, seperti bercanda beliau menyampaikan, “Kalau anda sedang jalan, apalagi kalau di tempat parkiran, mata Anda jangan memandang ke atas terus. Sekali-kali lihat ke bawah, siapa tahu anda menemukan barang berharga…”. Ketika mendengar itu, saya mengimani bahwa kami akan mengalaminya.

Ternyata betul, pada bulan Februari, hal itu terjadi pada kami. Saat itu suami saya ke pasar untuk menjual leontin. Sewaktu pulang, sementara mengambil motor di tempat parkir, kakinya menginjak sebuah benda, yang ternyata adalah cincin!. Ia langsung mengambilnya, dan sesampainya dirumah suami saya bilang bahwa dia menemukan cincin perak, tapi terikat benang. Ketika saya lihat, alangkah terkejutnya saya waktu itu, karena cincin itu bukan perak, tetapi emas seberat 2 gram.

Setelah lama berlalu, baru saya ceritakan peristiwa itu kepada Pdm. Petrus, sebab saya yakin tidak ada yang kebetulan dan itu semua adalah bagian dari rencana Tuhan karena Ia mau menunjukkan kasih dan kebesaran-Nya bagi kami yang mungkin saat itu itu sedang tawar hati. Tuhan sangat baik kepada saya, suami dan anak-anak kami. Kami senantiasa menerima kemurahan demi kemurahan dalam hidup kami.

Terima kasih kepada Pdt.Agung Takariana dan Pdt.Dione Takariana yang senantiasa mengutus hamba-hambaNya untuk memberkati kami dalam roh dan perjuangan iman kami. Terima kasih kepada dr.Ronius yang senantiasa memberikan semangat kepada suami saya, terlebih kepada Pdm. Petrus Halomoan Purba dan istri yang senantiasa mendoakan kami, kepada Pdp. Rianto Sutisna dan istri yang mendukung saya membuat kesaksian ini (tanpa beliau, mungkin saya tidak akan pernah menulis kesaksian ini). Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman tim PPG Palangkaraya. Tuhan Yesus memberkati, Amin.